Minggu, 11 Juli 2021

Karakteristik Peserta Didik

 

Nama : Redo Saputra 

Nim : 11901242

Kelas : Pai 4 E

Karakteristik merupakan suatu gaya hidup seseorang maupun nilai yang berkembang secara teratur setiap hari yang mengacu kepada tingkah laku yang mengarah pada kepribadian yang lebih konsisten dan mudah dipahami. Dimana karakteristik dapat diartikan sebagai ciri yang lebih ditonjolkan dalam berbagai aspek tingkah laku ( Daryanto & Rachmawati, 2015: 15)

Peserta didik merupakan orang yang mendapatkan pengaruh dari berbagai kelompok yang sedang melaksanakan pendidikan. Peserta didik merupakan unsur yang sangat penting dalam kegiatan pembelajaran. Karena peserta didik dijadikan sebagai titik persoalan dalam berbagai aktifitas kegiatan belajar mengajar. Dalam aspek psikologis, peserta didik merupakan titik penentu dalam proses pertumbuhan dan perkembangan baik dalam artian bentuk fisik maupun psikis. Namun, peserta didik juga berhak mendapatkan bimbingan yang terarah dan konsisten dalam menentukan kemampuan yang sebenarnya. Peserta didik disebut sebagai insan yang menarik. Karena memiliki fisik dan psikis yang unik. Berbagai potensi yang dimiliki oleh peserta didik masih memerlukan perkembangan guna mencapai kebutuhan untuk perkembangan yang sangat optimal.

Menurut Reigeluth (1993) seorang ilmuan pembelajaran yang menetapkan bahwa kedudukan karakteristik peserta didik merupakan komponen terpenting dalam pengembangan pengelolaan strategi pembelajaran. Dalam hal ini, proses pembelajaran yang didalamnya terdapat dimensi, metode, dan strategi yang telah dikembangkan dalam pembelajaran. Sehingga menganalisis karakteristik peserta didik merupakan suatu langkah awal yang harus dikembangkan. Strategi dan model dikembangkan dengan tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan optimal. Oleh karena itu, pembelajaran harus berpandangan kepada karakteristik peserta didik.

Karakteristik peserta didik dapat didefinisikan sebagai aspek maupun kualitas seorang peserta didik. Berbagai aspek yang yang ada dalam diri peserta didik dapat dikaitkan dengan penataan pembelajaran. Sehingga karakteristik peserta didik dapat mempengaruhi pemilihan strategi pembelajaran. Sesungguhnya, karakteristik pada peserta didik dididentifikasi dapat mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran dan hasil belajar peserta didik.

Kemampuan yang dimiliki oleh setiap peserta didik merupakan tonggak untuk memilih strategi pembelajaran yang cocok. Kemampuan peserta didik yang dijadikan sebagai kemampuan awal atau tonggak ini berperan untuk meningkatkan pelaksanaan pembelajaran. Hal ini menyebabkan perubahan besar yang membantu memudahkan proses internal yang terjadi pada peserta didik pada saat meraka melakukan kegiatan belajar

Secara umum karakteristik peserta didik yang disebut sebagai karakter individu ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor usia, latar belakang, dan keturunan (gender). Faktor – faktor tersebut telah dibawa sejak peserta didik lahir. Tetapi faktor tersebut juga dipengaruhi oleh keadaan dari lingkungan sosial yang menjadi titik awal menentukan kualitas hidup. Teori pembelajaran dijadikan sebagai acuan pada saat pengoptimalan proses pembelajaran. Sehingga teori tersebut dapat dikatakan sebagai teori yang komprehensif. Memasuki tahun 1960, Ausabel mengemukakan bahwa dalam mengoptimalkan perolehan hasil belajar, pengorganisasian, dan mengungkapkan adanya pengetahuan baru yang bertujuan untuk menciptakan dan mempuat pengetahuan baru yang sangat bermakna bagi peserta didik. Hal – hal yang perlu dilakukan adalah dengan menghubungkan pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta didik. (Umamah, 2014:101)

Dalam perkembangannya, peserta didik juga memiliki suatu hambatan dalam proses pembelajaran. Sehingga banyak berbagai faktor yang mempengaruhi karakteristik peserta didik antara lain:

Dalam diri individu sendiri :

Sejak berada dalam kandungan, janin tumbuh dan berkembang seseuai dengan proses tahapannya. Jadi akan terdapat berbagai faktor yang mempengaruhinya, yakni:

Bakat

Setiap bakat yang dimiliki oleh peserta didik dapat tumbuh dengan sendirinya dan tergantung pada peserta didik itu sendiri mau atau tidak dalam mengembangkan potensi bakat yang dimiliki.

Sifat keturunan

Berdasarkan fakta yang dimiliki oleh manusia, maka besar kemungkinan bagi peserta didik untuk memiliki sifat yang berdasarkan garis keturunan yang dimiliki oleh orang tua mereka.

Dorongan dan instik

Dorongan dan instik yang dimiliki oleh peserta didik berasala dari batin mereka masing – masing. Sehingga dorongan disini merupakan ambisi dari peserta didik untuk terus maju dalam meningkatkan proses pembelajaran.

Luar dari Individu

Faktor selanjutnya yakni berdasarkan dengan keadaan lingkungan tempat tinggalnya yang dapat mempengaruhi karakteristik peserta didik antara lain :

Makanan

Makanan maupun minuman dapat mempengaruhi dan menghambat perkembangan peserta didik karena setiap makanan dan minuman yang dikonsumsui dapat menjadi gizi dan racun bagi kesehatan tubuh manusia.

Iklim

Iklim yang dimiliki oleh suatu negara juga dapat memperuhi karakteristik peserta didi. Karena bila iklim di sekitar mereka baik dan tidak buruk. Maka sedikit kemungkinan untuk menghambat perkemangan karakteristik peserta didik.

Ekonomi

Ekonomi yang yang dimiki oleh pserta didik juga mampu menghambat perkembangan karakteristik peserta didik. Karena semakin tinggi ataupun semakin rendah suatu ekonomi yang dimiliki maka akan besar pengaruhnya terhadap karakteristik yang dimiliki oleh peserta didik.

Umum

Intelegensi

Kemampuan intelegensi ataupun intelektual yang dimiliki oleh peserta didik dapat mempengaruhi ke dalam proses pembelajaran peserta didik

Jenis kelamin

Jenis kelamin juga bisa disebut sebagai penghambat karakteristik peserta didik. Karena setiap laki – laki maupun wanita memilki perbedaan yang signifikan untuk diketahui oleh peserta didik

Karakteristik siswa merupakan salah satu variabal dari kondisi pengajaran. Variable ini didefinisikan sebagai aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa. Aspek-aspek ini bisa berupa bakat, minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berpikir, dan kemampuan awal (hasil belajar) yang telah dimilikinya. Karakteristik siswa akan sangat mempengaruhi dalam pemilihan strategi pengelolaan, yang berkaitan dengan bagaimana menata pengajaran, agar sesuai dengan karakteristik perseorangan siswa (Uno, 2010:158).

Karakteristik siswa merupakan ciri atau sifat dan atribut yang melekat pada siswa yang menggambarkan kondisi siswa, misalnya kemampuan akademis yang telah dimiliki, gaya dan cara belajar serta kondisi sosial ekonomi (Pribadi, 2009:211).

Karakteristik siswa merupakan keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dari lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-citanya.

a. Aspek Psikologis Siswa

1. Inteligensi

Inteligensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif, mengetahui menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat. Inteligensi sangat besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar (Slameto, 2003:56).

2. Perhatian

Perhatian adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itu pun semata-mata tertuju pada suatu objek atau sekumpulan objek. Untuk menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, jika bahan belajar tidak menjadi perhatian siswa, maka timbullah kebosanan, sehingga ia tidak suka belajar (slameto, 2003:56).

3. Minat

GMinat adalah kecendrungan yang tepat untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati seseorang, diperhatikan secara terus menerus yang disertai dengan rasa senang. Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaranyang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya, karena tidak ada daya terik baginya. Jika terdapat seswa yang kurang berminat terhadap belajar, dapatlah diusahakan agar ia mempunyai minat yang lebih besar dengan cara menjelaskan hal-hal yang menarik dan menarik bagi kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan cita-cita serta kaitannya dengan bahan pelajaran yang dipelajari itu (Slameto, 2003:57).

4. Bakat

Bakat adalah kemampuan untuk belajar. Kemampuan itu akan baru terealisasikan menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Bakat itu sangat mempengaruhi belajar. Jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya lebih baik karena siswa labih senang belajar dan pastilah selanjutnya ia lebih giat lagi dalam belajarnya itu (Slameto, 2003:57-58).

5. Motif

Motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai. Di dalam menentukan tujuan itu dapat disadari atau tidak, akan tetapi untuk mencapai tujuan itu perlu berbuat, sedangkan yang menjadi penyebab berbuat adalah motif itu sendiri sebagai daya penggerak/pendorongnya.

Dalam belajar haruslah diperhatikan apa yang dapat mendorong siswa agar dapat belajar dengan baik atau padanya mempunyai motif untuk berbikir dan memutuskan perhatian, merencanakan, dan melaksanankan kegiatan yang berhubungan untuk menunjang pelajaran (Slameto, 2003:59).

6. Kematangan

Kematangan adalah suatu tingkat/fase dalam pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Kematangan belum bearti anak melaksanakan kegiatan secara terus menerus, untuk itu diperlukan latihan-latihan dan pelajaran. Deangan kata lain anak yang sudah siap belum dapat melaksanakan kecakapannya sebelum belajara (Slameto, 2003:59).

7. Kesiapan

Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi respon atau bereaksi. Kesediaan itu timbul dari dalam diri seseorang dan juga berhubungan dengan kematangan , karena kematangan bearti kesiapan untuk melaksanakan kecakapan. Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa belajar dan padanya sudah ada kesiapan, maka hasil belajarnya akan lebih baik (Slameto, 2003:59).

b. Gaya Belajar

Gaya belajar merupakan sesuatu yang sangat penting dan sangat menentukan bagi siapapun dalam melaksanakan tugas belajarnya baik dirumah, di masyarakat, terutama di sekolah. Siapapun dapat belajar dengan lebih mudah, ketika ia menemukan gaya belajar yang cocok dengan dirinya sendiri.

Untuk itu secara ringkas kita akan menjelaskan beberapa tipe atau gaya belajar anak atau manusia pada umumnya adalam menimba ilmu sebagai alat pembentuk karakter dan kecerdasan terbaik bagi buah hati sebagaimana akan dipaparkan di bawah ini:

1. Auditori (learning by hearing)

Auditori adalah belajar dengan gaya mendengarkan guru yang mengajarkan suatu pelajaran. Ciri dari anak belajar dengan gaya belajar ini adalah anak sangat suka belajar melalui ceramah, diskusi, dan pembacaan pelajaran dengan jelas dan suara keras.

Gaya belajar auditori merupakan kecendrungan untuk mempelajari meteri pelajaran melalui indera pendengaran (Pribadi, 2009:211).

Gaya belajar auditori gaya belajar yang mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik model belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Ada beberapa karakteristik yang khas bagi orang yang menyukai belajar ini, sebagai berikut:

Semua informasi hanya bisa diserap melalui pendengaran.

Memiliki kesulitan untuk menyerap informasi dalam bentuk tulisan secara langsung.

Memiliki kesulitan menulis atau membaca (Uno, 2010:181-182).

Ada beberapa pendekatan yang bisa dilakukan untuk belajar, bisa menggunakan tape perekam sebagai alat bantu, dilakukan dengan wawancara atau terlihat dalam kelompok diskusi (Uno, 2010:182).

2. Visual (learning by seeing)

Visual adalah strategi belajar dengan menggunakan indera penglihatan atau melihat. Anak yang belajar dengan gaya belajar ini dapat belajar dengan baik dan tertib serta mengingat dengan baik jika proses pembelajaran itu dengan melihat gambar, peta, tabel, infokus, serta materi pelajaran secara langsung.

Gaya belajar visual merupakan kecendrungan untuk mempelajari pengetahuan dan keterampilan melalui indera penglihatan (Pribadi, 2009:211).

Gaya belajar seperti ini menjelaskan bahwa kita harus melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya. Ada beberapa karakterisrik yang khas bagi orang-orang yang menyukai gaya belajar visual ini, sebagai berikut:

Kebutuhan melihat sesuatu (informasi/pelajaran) secara visual untuk mengetahuinya atau memahaminya.

Memiliki kepekaan yang kuat terhadap warna.

Memiliki cukup pemahaman yang cukup terhadap masalah artistic.

Memiliki kesulitan dalam berdialog secara langsung.

Terlalu reaktif terhadap suara.

Sulit mengikuti anjuran secara lisan.

Seringkali salah menginterprestasikan kata atau ucapan (Uno, 2010:181).

Untuk mengatasi ragam masalah di atas, salah satunya adalah menggunakan beragam bentuk grafis untuk menyampaikan informasi atau materi pelajaran. Perangkat grafis itu biasanya berupa film, slide, gambar ilustrasi, kartu bergambar (Uno, 2010:181).

3. Kinestetik (learning by doing)

Strategi belajar dengan melakukan (langsung berbuat) artinya dengan langsung melakukan atau setidaknya menggunakan gerakan saat belajar atau mengajarkan suatu meteri pelajaran. Anak sangat senang belajar dengan berusaha mengalami dan mencoba sendiri, serta mengoptimalkan semua indra, seperti indra pengihatan, pendengaran, dan peraba.

Gaya belajar kinestik merupakan kecendrungan melakukan proses belajar sambil melakukan aktifitas (Pribadi, 2009:211).

Dalam gaya belajar ini kita harus menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar kita bisa mengingatnya. Ada beberapa karakteristik model belajar seperti ini yang tak semua orang bisa melakukannya, sebagai berikut:

Menempatkan tangan seagai alat informasi utama agar kita bisa terus mengingatnya.

Hanya dengan memegang kita bisa menyarap informasinya tanpa harus membaca penjelasannya.Termasuk orang yang tidak bisa/tahan duduk terlalu lama untuk mendengarkanpelajaran.Merasa bisa belajar lebih baik apabila disertai dengan kegiatan fisik.Orang yang memiliki gaya belajar ini memiliki kemampuan mengkoordinasi sebuah tim dan kemampuan mengendalikan gerak tubuh (athletic ability) (Uno, 2010:182).

Untuk orang-orang yang memiliki karakteristik seperti di atas pendekatan belajar yang mungkinbisa dilakukan adalah belajar berdasarkan atau melalui pengalaman dengan menggunakan model tau peraga, bekerja dilaboratorium atau bermain sambil belajar (Uno, 2010:182).

Karakteristik peserta didik

Menurut Reigeluth (1993) mengungkapkan bahwa karakteristik peserta didik terbagi menjadi empat yakni antara lain :

Pengetahuan

Pengetahuan merupakan suatu intelektual yang dimiliki oleh peserta didik. Pengetahuan inilah yang disebut dengan intelegensi siswa yang harus tetap dipertahankan untuk kemampuan peserta didik.

Menurut Reigeluth (dalam Degeng, 1999) pengetahuan peserta didik diidentifikasi menjadi tujuh jenis yang termasuk kedalam kemampuan awal peserta didik. Kemampuan awal peserta didik ini antara lain:

Arbitrarily meaningfull knowledge (pengetahuan bermakna tak terorganisasi).

Pengetahuan ini merupakan tempat untuk mengaitkan suatu kemampuan menghafal. Hafalan dalam hal ini merupakan hafalan yang tidak terlalu penting. Namun masih memiliki makna penting bagi pengetahuan peserta didik. Sehingga hafalannya hanya untuk memudahkan retensi.

Analogic knowledge (pengetahuan analogis)

Pengetahuan seperti ini merupakan pengetahuan baru yang mengaitkan pengetahuan dengan kemampuan peserta didik maupun pengetahuan baru yang masih sama dan serupa serta berada di luar topik atau isi yang sedang dibacarakan.


Superordinate knowledge (pengetahuan tingkat yang lebih tinggi)

Pengetahuan tingkat yang lebih tinggi ini merupakan pengetahuan yang memiliki tingkat yang berada diatas analogic knowledge. Jadi dalam hal ini pengetahuan tingkat lebih tinggi dapat berfungsi sebagai tonggak atau kerangka bagi pengetahuan yang baru.

Coordinate knowledge (pengetahuan setingkat)

Pengetahuan setingkat ini merupakan pengetahuan yang berfungsi sebagai pengetahuan yang komparatif.

Subordinate knowledge (pengetahuan tingkat yang lebih rendah)

Pengetahuan tingkat yang lebih rendah ini merupakan pengetahuan yang berfungsi untuk menyatakan kebenaran pengetahuan baru yang sebenarnya. Sehingga dapat dibuktikan dengan memberikan contoh-contohnya.

Experiential knowlege (pengetahuan pengalaman)

Pengetahuan berdasarkan pengalaman ini memiliki fungsi dan tujuan yang sama dengan pengetahuan tingkat yang lebih rendah. Pada pengetahuan pengalaman ini juga mengkonkritkan atau memberikan fakta dengan menyediakan bukti contoh untuk pengetahuan baru.

Cognitive strategy (strategi kognitif)

Strategi kognitif yang dimaksud ialah suatu strategi yang menyediakan berbagai cara dalam mengolah pengetahuan baru. Sehingga akan ada pemikiran ataupun pengungkapan kembali terhadap pengetahuan yang telah tersimpan dalam memori ingatan

Gaya

Reigeluth mengidentifikasi gaya belajar peserta didik menjadi tiga tipe yakni gaya belajar visual, gaya belajar auditori, dan gaya belajar kinestetik. Gaya belajar pada peserta didik merupakan suatu tipe dengan tujuan untuk meningkatkan hasil belajar mereka. Sehingga peserta didik akan selalu menggali potensinya dengan cara gaya belajar mereka sendiri. Setiap peserta didik yang memiliki gaya belajar visual mereka akan belajar memahami dengan apa yang mereka lihat. Sedangkan peserta didik yang memiliki gaya belajar auditori lebih memahami pembelajaran dengan cara mendengar apa yang mereka dengar. Sementara gaya belajar kinestetik memahami dengan cara menggerakkan tubuhnya, entah itu sentuhan ataupun pada rabaan. Namun dalam kenyataannya setiap peserta didik pasti memiliki ketiga gaya belajar tersebut. Tetapi hanya salah satu yang mendominasi dalam gaya belajar mereka.

Sabtu, 03 Juli 2021

Kompetensi Profesional Guru

Nama : Redo Saputra 

Nim : 11901242 

Kelas : Pai 4 E

Makul : Magang 1 

Kompetensi Propesional Guru 

Kompetensin adalah  Seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas- tugas dibidang pekerjaan tertentu. Sedangkan James M. Coper  said that “A Professional is a person who possesses some specialized knowledge and skills, can weigh alternatives, and can select from among a number of potentially productives actions one that is particularly appropriate in a given situation” ( Sanjaya Wina. 2006: 142).

Kompetensi guru (teacher’s competency) adalah kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban kewajibannya secara bertanggung jawab dan layak. Dengan demikian Guru professional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal.  Pada dasarnya terdapat seperangkat tugas yang harus dilaksanakan oleh guru berhubungan dengan profesinya sebagai pengajar, tugas guru ini sangat berkaitan dengan kompetensi profesionalnya. Hakikat profesi guru merupakan suatu profesi, yang berarti suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan Walaupun pada kenyataannya masih terdapat hal-hal tersebut di luar bidang kependidikan.

    Tuntutan atas berbagai kompetensi ini mendorong guru untuk memperoleh informasi yang dapat memperkaya kemampuan agar tidak mengalami ketinggalan dalam kompetensi profesionalnya. Semua hal yang disebutkan diatas merupakan hal yang dapat menunjang terbentuknya kompetensi guru. Dengan kompetensi profesional tersebut, dapat diduga berpengaruh pada proses pengelolaan pendidikan sehingga mampu melahirkan keluaran pendidikan yang bermutu. Keluaran yang bermutu dapat dilihat pada hasil langsung pendidikan yang berupa nilai yang dicapai siswa dan dapat juga dilihat dari dampak pengiring, yakni dimasyarakat. Selain itu, salah satu unsur pembentuk kompetensi profesional guru adalah tingkat komitmennya terhadap profesi guru dan didukung oleh kemampuan menggunakan nalar.

     Kompetensi guru berkaitan dengan profesionalisme, yaitu guru yang profesional adalah guru yang kompeten (berkemampuan). Karena itu, kompetensi profesionalisme guru dapat diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi keguruannya dengan kemampuan tinggi. Profesionalisme seorang guru merupakan suatu keharusan dalam mewujudkan sekolah berbasis pengetahuan, yaitu pemahaman tentang pembelajaran, kurikulum, dan perkembangan manusia termasuk gaya belajar. Pada umumnya di sekolah-sekolah yang memiliki guru dengan kompetensi profesional akan menerapkan “pembelajaran dengan melakukan” untuk menggantikan cara mengajar dimana guru hanya berbicara dan peserta didik hanya  mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru tanpa adanya keinginan untuk bertanya. Menurut Soedijarto, Guru yang memiliki kompetensi profesional perlu menguasai antara lain adalah sebagai berikut :  

(a) disiplin ilmu pengetahuan sebagai sumber bahan pelajaran;

(b) bahan ajar yang diajarkan;

(c) pengetahuan tentang karakteristik siswa;

(d) pengetahuan tentang filsafat dan tujuan pendidikan;

(e) pengetahuan serta penguasaan metode dan model mengajar;

(f) penguasaan terhadap prinsip-prinsip teknologi pembelajaran;

(g) pengetahuan terhadap penilaian, dan mampu merencanakan, memimpin, guna kelancaran proses pendidikan;

(h)  kemampuan dasar dalam penelitian seperti class action research (SAR atau penelitian tindakan kelas).

Kompetensi profesional seorang guru adalah seperangkat kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru agar ia dapat melaksanakan tugas mengajarnya dengan berhasil. Adapun kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru, terdiri dari 3 (tiga) yaitu ; kompetensi pribadi, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional mengajar. Keberhasilan guru dalam menjalankan profesinya sangat ditentukan oleh ketiganya dengan penekanan pada kemampuan mengajar. Dengan demikian, bahwa untuk menjadi guru profesional yang memiliki akuntabilitas dalam melaksanakan ketiga kompetensi tersebut, dibutuhkan tekad dan keinginan yang kuat dalam diri setiap guru atau calon guru untuk mewujudkannya. Sebagai seorang guru perlu mengetahui dan menerapkan beberapa prinsip mengajar agar seorang guru dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, yaitu sebagai berikut :

Guru harus dapat membangkitkan perhatian peserta didik pada materi mata pelajaran yang diberikan serta dapat menggunakan berbagai media dan sumber belajar yang bervariasi.

Guru harus dapat membangkitkan minat peserta didik untuk aktif dalam berpikir serta mencari dan menemukan sendiri pengetahuan yang diperlukannya.

Guru harus dapat membuat urutan (sequence) dalam pemberian pelajaran dan penyesuaiannya dengan usia dan tahapan tugas perkembangan peserta didik.

Guru perlu menghubungkan pelajaran yang akan diberikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik (kegiatan apersepsi), agar peserta didik menjadi mudah dalam memahami pelajarannya yang diterimanya dengan yang akan diterimanya nanti.

Sesuai dengan prinsip repitisi dalam proses pembelajaran, diharapkan guru dapat menjelaskan unit pelajaran secara berulang-ulang hingga tanggapan peserta didik menjadi jelas.

Guru wajib memerhatikan dan memikirkan korelasi atau hubungan antara mata pelajaran dan/atau praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Guru harus tetap menjaga konsentrasi belajar para peserta didik dengan cara memberikan kesempatan berupa pengalaman secara langsung, mengamati/meneliti, dan menyimpulkan pengetahuan yang didapatnya dan dikaitkan dengan kondisi realita kesehariannya.

Guru harus mengembangkan sikap peserta didik dalam membina hubungan sosial, baik dalam kelas maupun diluar kelas dalam lingkungan sekolah dan di lingkungan sosialnya.

Guru harus menyelidiki dan mendalami perbedaan peserta secara individual agar dapat melayani siswa sesuai dengan perbedaannya tersebut. Kemampuan penelitian dasar bagi guru.

Guru juga dapat melaksanakan evaluasi yang efektif serta menggunakan hasilnya untuk mengetahui prestasi dan kemajuan siswa serta menggunakan hasilnya untuk mengetahui prestasi dan kemajuan siswa serta dapat melakukan perbaikan dan pengembangan. Seiring dengan kemajuan teknologi informasi yang berkembang pesat, guru tidak lagi hanya bertindak sebagai penyaji informasi, tetapi juga harus mampu bertindak sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mencari dan mengolah sendiri informasi. Dengan demikian keahlian guru harus terus dikembangkan dan tidak hanya terbatas pada penguasaan prinsip mengajar seperti yang telah diuraikan  diatas.

Bertitik tolak dari pendapat para ahli tersebut diatas, maka yang dimaksud “Kompetensi Profesionalisme Guru” adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidangnya sehingga ia mampu menjalankan tugas dan fungsinya sebagai seorang guru dengan hasil  yang baik dan mampu dipertanggungjawabkan pada publik, siswa, walimurid, pemerintah dan terutama pada dunia kerja.

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen menyatakan bahwa kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Menurut Finch & Crunkilton, (1992: 220) Menyatakan “Kompetencies are those taks, skills, attitudes, values, and appreciation thet are deemed critical to successful employment”. Pernyataan ini mengandung makna bahwa kompetensi meliputi tugas, keterampilan, sikap, nilai, apresiasi diberikan dalam rangka keberhasilan hidup/penghasilan hidup. Hal tersebut dapat diartikan bahwa kompetensi merupakan perpaduan antara pengetahuan, kemampuan, dan penerapan dalam melaksanakan tugas di lapangan kerja.

Kompetensi guru terkait dengan kewenangan melaksanakan tugasnya, dalam hal ini dalam menggunakan bidang studi sebagai bahan pembelajaran yang berperan sebagai alat pendidikan, dan kompetensi pedagogis yang berkaitan dengan fungsi guru dalam memperhatikan perilaku peserta didik belajar (Djohar, 2006 : 130).

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kompetensi guru adalah hasil dari penggabungan dari kemampuan-kemampuan yang banyak jenisnya, dapat berupa seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam menjalankan tugas keprofesionalannya. Menurut Suparlan (2008:93) menambahkan bahwa standar kompetensi guru dipilah ke dalam tiga komponen yang saling berkaitan, yaitu pengelolaan pembelajaran, pengembangan profesi, dan penguasaan akademik.

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, adapun macam-macam kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga guru antara lain: kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru.

1) Kompetensi Pedagogik

Kompetensi pedagogik meliputi pemahaman guru terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya. Secara rinci setiap subkompetensi dijabarkan menjadi indikator esensial sebagai berikut;

Memahami peserta didik secara mendalam memiliki indikator esensial: memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip perkembangan kognitif; memahami peserta didik dengan memanfaatkan prinsip-prinsip kepribadian; dan mengidentifikasi bekal ajar awal peserta didik.Merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran memiliki indikator esensial: memahami landasan kependidikan; menerapkan teori belajar dan pembelajaran; menentukan strategi pembelajaran berdasarkan karakteristik peserta didik, kompetensi yang ingin dicapai, dan materi ajar; serta menyusun rancangan pembelajaran berdasarkan strategi yang dipilih.

      Melaksanakan pembelajaran memiliki indikator esensial: menata latar (setting) pembelajaran; dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.Merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran memiliki indikator esensial: merancang dan melaksanakan evaluasi (assessment) proses dan hasil belajar secara berkesinambungan dengan berbagai metode; menganalisis hasil evaluasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar (mastery learning); dan memanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program pembelajaran secara umum.

Mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya, memiliki indikator esensial: memfasilitasi peserta didik untuk pengembangan berbagai potensi akademik; dan memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan berbagai potensi nonakademik.

2) Kompetensi Kepribadian

Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Secara rinci subkompetensi tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:

Kepribadian yang mantap dan stabil memiliki indikator esensial: bertindak sesuai dengan norma hukum; bertindak sesuai dengan norma sosial; bangga sebagai guru; dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.

Kepribadian yang dewasa memiliki indikator esensial: menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik dan memiliki etos kerja sebagai guru.

Kepribadian yang arif memiliki indikator esensial: menampilkan tindakan yang didasarkan pada kemanfaatan peserta didik, sekolah, dan masyarakat serta menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.

Kepribadian yang berwibawa memiliki indikator esensial: memiliki perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki perilaku yang disegani.

Akhlak mulia dan dapat menjadi teladan memiliki indikator esensial: bertindak sesuai dengan norma religius (iman dan taqwa, jujur, ikhlas, suka menolong), dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.

3) Kompetensi Sosial

Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Kompetensi ini memiliki subkompetensi dengan indikator esensial sebagai berikut: 

Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik memiliki indikator esensial: berkomunikasi secara efektif dengan peserta didik.

 Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan.

Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.

4) Kompetensi Profesional

Kompetensi profesional merupakan penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penguasaan terhadap stuktur dan metodologi keilmuannya. Setiap subkompetensi tersebut memiliki indikator esensial sebagai berikut:

Menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi memiliki indikator esensial: memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum sekolah; memahami struktur, konsep dan metode keilmuan yang menaungi atau koheren dengan materi ajar; memahami hubungan konsep antar mata pelajaran terkait; dan menerapkan konsep-konsep keilmuan dalam kehidupan sehari-hari. Menguasai struktur dan metode keilmuan memiliki indikator esensial menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian kritis untuk memperdalam pengetahuan/materi bidang studi.

Keempat kompetensi tersebut di atas bersifat holistik dan integratif dalam kinerja guru. Oleh karena itu, secara utuh sosok kompetensi guru meliputi (a) pengenalan peserta didik secara mendalam; (b) penguasaan bidang studi baik disiplin ilmu (disciplinary content) maupun bahan ajar dalam kurikulum sekolah (c) penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik yang meliputi perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi proses dan hasil belajar, serta tindak lanjut untuk perbaikan dan pengayaan; dan (d) pengembangan kepribadian dan profesionalitas secara berkelanjutan. Guru yang memiliki kompetensi akan dapat melaksanakan tugasnya secara profesional (Ngainun Naim, 2009:60).

Sumber referensi 

Andriani Dwi Nila , "Kompetensi  Propesional Guru , Motivasi Belajar , Dan Gaya  Belajar Berpengaruh  Terhadap Pemahaman  Ekonomi Siswa Kelas XI IPS DI SMA NEGERI 1 GONDANG" jurnal ekonomi dan kewirausahaan . Vol.  2 . No . 1, Tahun 2014 .



Minggu, 25 April 2021

Manajemen Kelas

 1.Konsep  Manajemen Pendidikan 

a. Pengertian manajemen kelas 

Manajemen kelas berasal dari dua kata , yaitu manajemen dan kelas , manajemen berasal dari kata  bahasa inggris yaitu managemnet , yang diterjemahkan pula menjadi pegelolaan yang berarti pengunaa sumberdaya untuk mencapai tujuan dan sasaran . Sementara yang di maksud dengan kelas adalah sekelompok peserta didik yang mendapat kan pembelajaran dari seorang pendidik . Kata kelas dapat lagi di maknakan dengan dua arti yaitu dalam arti yang pertama kelas dalam artian yang kecil adalah kelas dapat di artikan sebagai suatu tempat atau ruangan yang berfungsi sebagai tempat kegiatan proses beljar dan mengajar . Kedua kelas dalam artian luas , yaitu sekelompok masyarakat yang melakukan proses belajar  mengajar  secara kreatif untuk mencapai suatu tujuan . Jadi manajemen kelas adalah suatu proses yang dilakuakan untuk menciptakan cara belajar yang efektif dan bisa membuat peserta didik menjadi senang dan dafat menumbuh kan semangat belajar bagi peserta didik.

Menurut sudirman danim , manajemen kelas dapat didefinisikan sebagai berikut :

Manajemen kelas adalah sebuah seni atau suatu strategi kerja, yaitu seorang guru bekerja sendiri atau melalui orang lain misalakan seorang guru bekerja dengan anak didik nya demi mengoptimalkan sebuah sumberdaya kelas demi terciptan nya suatu proses yang baik dan efektif dan terarah . Disini sumberdaya kelas menjadi bagian yang paling penting atau inti untuk hasil belajar sebagai mana mestinya . 

Manajemen kelas adalah suatu proses perencanaan , pelaksanaan , pengorganisasian , dan penilaian yang dilakukan oeleh guru . baik itu di lakuakan dengan individu atau dengan orang lain semisal nya  dengan peserta didik itu sendiri demi tercapai nya proses belajar yang optimal . Kata perencanaan adalah suatu proses atau unsur – unsur penunjang dari proses belajar . Pelaksanaan mempunyai arti proses pembelajaran  dan evaluasi terdiri dari dua yaitu evaluasi proses dan evaluasipembelajar . 

Manajeman kelas adalah suatu proses seperti perencanaan , pengorganisasian , penggerakan , dan pengawasan yang di lakukan oleh seorang guru  , untuk mencapai suatu proses belajar yang efektif dan efisien .

Dari definisi di atas dapat saya pahami bahsa demi tercapai nya proses belajar yang efektif dan efisien itu teidak lepas dari proses perencanaan , pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran serta dapat mengoftimalkan sumber daya yang sebaik mungkin .  Definisi manajemen atau pengelolaan kelas telah mengalami suatu pergeseran yang cukup jauh meski proses dan tujuan nya sama yaitu deimi terciptannya proses belajar yang baik dalam proses pendidikan . Efisien dan efektivitas pembelajaran dapat diukur menuru nilai – nilai pendidikan . Adapun nilai – nilai yang dimaksud berupa perjuangan , kognitif , afeksi ,solidaritasi sosial, moral ,keagamaan dll . Berdasarkan pendekatan oprasional menurut weber, manajemen kelas adalah sebagai berikut 

Suatu kegiatan guru yang mencoba menciptakan sebuah ketertiban dan membangun suasana kelas melalui kedisiplinan

Kegiatan guru yang di lakukan untuk menciptakan dan memptertahankan ketertiban kelas dengan melalui itimidasi 

Merupakan kegiatan guru untuk dapat sebaik munggkin untuk kebebasan sisiwa 

Merupakan seperangkat dari kegiatan guru untuk menciptakan dengan cara mengikuti pentunjuk yang telah di tentukan 

Merupakan seperangkan dari kegiatan guru untuk dapat menciftakan suasana kelas yang efektif dengan melakukan perencanaan belajar yang baik dan bermutu .

Sebuah kegiatan guru yang di laksanakan untuk mengembangkan tingkah laku peserta didik yang tidak kita inginkan dengan cara mengurangi tingkah laku dari peserta didik agar tidak tercipta tingkah laku yang tidak di inginkan 

Sebua kegiatan guru untuk mengembangkan hubungan yang baik dan iklim kelas yang positf 

Seperangat kegiatan guru untuk menumbuhkan sebuah organisasi kelsa yang kondusif 

Kegiatan dari manajemen kelas meliputi mempertahankan ketertiban kelas , memberikan kebebasan terhadap siswa dalam proses pembelajaran , perencanaan , menerapkan tingkah laku yang positif kepada peserta didik dan mengembangkan sebuah hubungan interpersonal dan iklim sosioemosional yang baik dan juga positif dalam proses belajar mengajar .

b. Tujuan manajemen kelas 

Manajemen kelas pada umumnya memiliki sebuah tujuan yaitu untuk menciptakan efektivitas dan efisiensi dalam pencapaian tujuan pembelajaran . Selain itu manajemen kelas juga berutujuan untu menciptakan suasana proses belajar dan mengajar  yang nyaman . Dengan demikian proses tersebut akan dapat berjalan dengan efektif dan erarah , sehingga maksud dan tujuan dari sistem pendidikan dapat tercapai yang dapat menciptakan sebuah sumberdaya manusia yang bermutu dan berkualitas tinggi . 

Di dalam manajemen kelas terdapat sebuah pengelolaan fisik dan pengelolaan sosio – emosional merupakan bagian dalam pencapaian dan tujuan pembelajaran .  Sebuah ketercapaian yang di kemukakan oleh A.C. Wraag dapat di ketahui dari 

“ peserta didik memberikan respon yang baik yaitu dengan perlakuan yang sopan dan penuh perhatian dari seorang guru . Peserta didik akan semangat belajar dan berkonsetrasi dalam melaksanakan tugas yang sesuai dengan kemampuanya  

Tujuan dari manajemen kelas yang di sampaikan oleh Dirjen PUOD dan Dikdasmen adalah sebagai berikut   

Mewujudkan situasi dan kondisi di dalam kelas saat proses belajar mengajar 

Menghilangkan berbagai tantangan yang dapat menghambat terjadinya interaksi pembelajaran . Mengatur segala pasilitas belajar yang berufungsi mendukung dan dapat memungkinkan siswa belajar sesuai dengan soial , emosional dan keterampilan siswa di kelas 

Mengarahkan dan membimbing siswa yang mempunyai keterbatasan ekonomi dan sifat dari individunya 

Jika tujuan dari pembentukan manajemen kelas sudah tercapai terdapat dua kemukinan yang akan di alami oleh siswa sebagai indikator keberhasilan dari manajeman itu sendiri .

Manajemen kelas dapat di katakan berhsil apabila siswa memiliki semangat belajar dan bekerja yang tinggi . siswa pantang menyerah selalau berfikir positif manakalah mereka tiadak pahamam dengan tugas yang akan di kerjakan tapi siswa itu masih tetap menunjukan semanggat belajar yang tinggi walaupun mereka menghadapi masalah yang sulit sekalipun .

Manajemen kelas dapat di katakan berhasil apabila setiap siswa mampu utuk melakukan sebuah pekerjaan ataupun tugas tidak membuan – buang waktu sedikitpun . artinya siswa dapat mengunakan waktu sebaik mungkin untuk mengerjakan segala sesuatu .

c. Prinsip manajemen kelas 

Di dalam suatu sekolah , perlu kita sadari bahwa sejumlah siswa di dalam kelas juga turut mewarnai dinamika kelas itu sendiri. Jika semakin banyak jumlah siswa di dalam kelas maka akan terjadi kemungkinan akan terjadi suatu konflik antar peserta didik  . Jika sebalik nya di dalam kelas terdapat sedikit siswa akan mengurangi terjadi nya konflik antar sisiwa oleh karena itu agar manajemn kelas dapat tercapai dengan baik maka penting bagi seorang guru untuk memahami beberapa prinsip –prinsip dasar ini sangat  akan sangat membantu dalam mengelolah manajemen kelas.

Berikut ini prinsip- prinsip manajemen kelas yaitu 

Guru harus hangat dan antusias 

Agar dapat terciptanya suasana kelas yang baik seorang guru haru memiliki sikap yang hangat dan antusias terhadap muridnya . Untuk dapat memiliki sikap yang hangat dan atusias seorang guru dapat melakukan hal- hal berikut 

Cara yang pertama yaitu kita sebagai seorang pendidika harus sesering mungkin setiap kali pertemuan di kelas menanyakan kabar siswa kita cara ini mungkin dapat membuat mereka tidak tegang pada saat proses belajar .

Cara yang kedua yaitu berikan waktu kepada siswa untuk bercerita tantang persoalan yang mungkin sedang mereka hadapi baik itu masalah belajar ataupun di luar pelajaran 

Cara yang ketiga yaitu  berdoa bersama Kita sebagai seorang pendidikan harus la mendoakan siswa kita dengan khusuyuk dan ikhlas agar kelak mereka dapat menagkap materi atau pelajaran yang sedang kita terangan .

Untuk memiliki sikap antusias sebagai seorang guru ada beberapa langkah yang harus di lakukan yaitu :

Pertama , guru tidak sungkan memberikan pujian kepada siswanya agar peserta didik merasa di hargai pada saat proses belajar dan mengajar 

Kedua, guru selalu berusaha untuk membantu siswa . Sebagai seorang guru kita harus membantu siswa yang sedang ada masalah sehinga antara siswa dan guru tercipta sikap saling peduli dan saling tolong menoling sehingga siswa menjadi senang 

Ketiga , guru haurs melakukan shering atau bertukar pendapat dengan siwa , yang sedang megemukakan masalah peribadinya agar siswa kita merasa tidak bosan 

Keempat , sebagai seorang guru kita harus menghargai siswa nya . ketika ada seorang PPsiswa yang mengemukakan pendapat nya kita harus menghargai pendapat tersebut . Agar peserta didik juga bisa menghargai kita sebagai gurunya .

Seorang guru harus mampu memberikan tantangan 

Biasanya seoran siswa sangat menykai tantangan yan mengusik rasa ingin tahu mereka . Karena itu , sebagai seorang guru kita harus bisa memberikan tantangan tersebut 

Berikut ini akan di jelaskan beberapa langkah yang dapat di lakukan oleh guru dalam memberikan tantangan 

Pertama, Lakukan evalauasi secara terus menerus setiap minggu . 

Kedua , Berikan kuais terhadap siswa misalnya guru memberikan soal kepada siswa dan siapa yang bisa menjawab maka akan di beri hadia .

Ketiga , Kaitkan dengan dunia luar .

Keempat , mengunakan sebuah metode yang berpariasi 

Guru harus bisa mampu bersikap luwes 

Sebagai seorang guru kita harus mempunyai  sikap luwes kepada siswan nya . artinya di dalam proses belajar mengajar di kelas guru tidak haru menjadi seorang yang serba tahu sesekali seorang guru harus menjadi saudara , orang tua, dan sahabat bagi siswanya. 

Jika seorang guru mempunyai sikap luwes kepada siswa nya maka dapat menumbuhkan rasa saling menghormati dan menghargai antara guru dan siswa . 

Pendekatan dalam manajemen kelas 

Pendekatan kekuasaan 

Pendekatan kekuasaan di sini memiliki arti di mana sikap atau konsistensi aturan – aturan yang harus di tegakkan demi tercapai nya sebuah kedisiplinan di dalam kelas 

Pendekatan ancaman 

Ancaman juga dapat di lakukan oleh seorang guru untuk memanjemen kelas yang baik .

Pendekatan kebebasan 

Pendekatan resep 

Pendekatan pengajaran 

Pendekatan perubahan tingkah laku 

Pendekatan sosio emosional 

Pendekatan kerja kelompok 

Pendekatan elektis atau pluralistis 



Minggu, 18 April 2021

Manajemen sekolah

 Manajemen Sekolah 

   Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral yang dapat dipisahkan dari proses pendidiakan . Jika tidak ada manajemen tidak mungkin pendidikan dapat diwujudkan secara optimal , efisien . 

   Manajemen pendidikan adalah dua kata yang mempunyai  satu arti yang sama , yaitu manajemen dan pendidikan . Secara sederhana menejemen pendidikan dapat di artikan sebagai manajemen pendidikan yang di jalan kan dalam proses pendidikan dengan ciri khas dan sepesipik yang terdapat dalam dunia pendidikan . Manajemen pendidikan adalah  suatu alat yang dapat di gunakan dalam mencapai suatu tujuan pendidikan. Unsur manajemen pendidikan merupakan salah satu penerapan prinsip manajemen dalam proses pendidikan .  Manajemen pendidikan merupakan suatu rangkaian dari suatu proses pendidikan yang terdiri dari perencanaan , pengorganisasian ,penggerakan dan pengawasan yang saling berkaitan dalam  dunia pendidikan (Kurniadin dan Macheli, 2012:117).

   Husaini Usman mendefinisikan manajemen pendidikan sebabagai seni ilmu yang mengelola suatu sumber daya dalam sautu pendidikan agar dapat mewujudkan proses dan hasil belajar siswa secara kereatif , aktif , inofatif , dan menyenangkan dalam pengembangan pontesi siswanya . Manajemen adalah seni dalam mengelolah program pendidikan agar dapat mencapai pendidikan secara efektif dan efisien . Manajemen pendidikan adalah suatu proses perencanaan dalam dunia pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang baik ( Usman , 2013: 14 ) . 

    Dalam memahami manajemen pendidikan perulu kita paham terlebih dahulu fungsi – fungsi pokok dalam manajemen sebagai mana yang telah di paparkan di atas . Beberapa fungsi tersebut dapat kita pahami sebagai berikut , perencanaan adalah proses menetapkan tujuan melaluai cara dengan metode yang tepat dan sistematis untuk mencapai tujuan . Melalaui  suatu perencanaan  lembaga suatu pendidikan akan dapat menyusun pendidikan dan prosedur yang palaing baik dalam menjalan kan suatu kegiatan dalam pendidikan . Pengorganisasian adalah proses membentuk suatu kerja sama beberapa individu dalam suatu struktur tertentu untuk mencapai tujuan . Tujuan yang lain atau berbeda , sehingga di perlukan nya upaya penyusunan sturuktur organisasi melalu metode pengorganisasian . Pengarahan adalah proses suatu pengarahan dan mengajak suatu anggota organisasi secara perorangan ataupun secara keseluruahan dalam  berbagai kegiatan pendidikan untuk mencapai tujuan .  Pengendalian adalah suatu proses memastikan bahwa kegiatan yang di laksanankan harus sesuai dengan tujuan harus sesuai dengan rencana yang telah di buat atau di tetapkan dalam proses perencanaan . Ada tiga unsur penting dalam pengendalaian dalam suatu proses pendidikan adalah standar kinerja , pengukuran yang telah di laksanakan , dengan perbandingan antara kinerja yang di laksanakan dengan standar kerja. Jika ditemukan sebua penyimpangan dalam melaksanakan suatu kegiatan maka perlu di lakukan nya sebuah perbaikan agar dapat menghilangkan dan mengurangi penyimpangan tersebut (Nafas , 2011:28-30).

    Berdasarkaan paparan di atas mengenai manajemen pendidikan pada intinya manajemen adalah suatu yang sangat penting dalam suatu lembaga pendidikan . Jika manajemen dalam suatu lembaga pendidikan baik maka dapat di pastikan bahwa lembaga pendidiakan tersebut berkualitas dan bermutu. Peningkatan mutu dalam majemen lembaga pendidikan ini dapat memunculkan sebuah konsep yang dapat disebut dengan manajemen berbasis sekolah yang memberikan  kekuasaan penuh terhadap sekolah dan para pendidikan dalam mengatur suatu pendidikan dan pengajaran , merencanakan , mengawasi , mengembangkan dan mengendalaikan semua yang ada dalam proses pendidikan . 

Konsep Manajemen Berbasis Sekolah

Istilah manajemen berbasis sekolah merupakan terjemahan dari School – Based Management . Istilah ini pertama kali muncul di amerika serikat ketika masyarakat mulai bertanya tentang relevansi suatu pendidiakan apakah sesuai dengan tuntunan dan perkembangan dalam masyarakat . Manajemen berbasis sekolah perupakan sesuatu yang memberikan sebauah otonomi yang sangat luas pada suatu sekolah  . dalam rangka pendidikan nasional .

  Dalam penyelengaraan pendidikan telah melahirkan sebuah persepektif baru dalam pengelolaan pendidikan yang di sebut dengan manajemen berbasis sekolah . Yang dapat di sebut dengan otonomi sekolah atau desenteralisasi sekolah yang dapat di artikan sebagai pengelolaan pendidikan yang sesuai dengan kebutuahan sekolah dan masyarakat . Jika di artikan secara konseptual manajemen berbasis sekolah adalah pengelolaan yang memberikan seluruh kebijakan kepada guru dan sekolah untuk mengatur jalannya pendidikan dalam suatu sekolah dan masyarakat pun terlibat dalam pendidiakan .

Salah sautu perlibatan masyarakat yang di maksudkan adalah agar masyarakat sebagai stakeholder sekolah dapat memahami, membantu , dan mengatur pengelolaan pendidikan . Dalam kebijakan nasional yang merupakan priotitas pemerintah harus tetap di jalan kan oleh pihak sekolah . Sistem manajeman sekolah di tuntut untuk secara mandiri dalam mengali dan penentuan prioritas dan dapat mempertanggung jawabkan pemberdayaan sumber baik itu kepada masyarak ataupun pemerintah .

   Pada intinya manajemen berbasis sekolah merupakan salah satu wujud dari perubahan pendidiakan yang memberikan suatu tawaran kepada sutu lembaga pedidikan untuk memberikan suatu pendidikan yang baik dan cukup memadai bagi peserta didik.  Otonomi dalam manajemen merupakan kegiatan yang dapat meningkatkan kinerja guru dan staf dan melibat kan partisipasi langsug terhadap masyarakat terhadap pendidikan . Kewenangan yang berpusat pada sekolah  merupakan inti dari management berbasis sekolah yang memiliki tingkat keefektifan tinggi dan memberikan keuntungan berikut :

Kebijakan dan kewenangan sekolah berpengaruh langsung terhadap peserta didiknya orang tua dan guru .

Bertujuan memberikan bagaimana cara untuk memanfaatkan sumberdaya yang ada di lingkungan sekolah 

Dapat memberikan keefektifan dalam melaksanakkan dalam pembinaan peserta didik seperti absensi , hasil belajar , tingkat pengulangan , keputusan sekolah , moral guru dan sekolah .

Timbulnya perhatian bersama dalam mengambilan keputusan guru , manajemen sekolah , rancana sekolah dan perubahan perencanaan  ( Mulyasa , 2014: 25).

Prinsip Manajemen Berbasis Sekolah 

Terdapat empat prinsip menjemen berbasi sekolah sebagai  otonomi daerah dalam bidang pendidikan yang dijadikan landasan dalam penterjemahan konsep manajemen  dan penigkatan mutu berbasisi sekolah yang sesuai dengan tujuannya , yaitu flexsibilitas , partisipasi , dan inisiatif .

Prinsip otonomi 

Prinsip otonomi dapat di artikan sebagai suatu kemandirian , yaitu kemandirian dalam megatur dan mengurus proses pendidikan 

Kemandirian itu meliputi proses program dan pembiyayaan adalah salah satu kemandirian bagi suatu sekolah . Kemandirian itu jika di lakukan secara terus – menerus selama perkembagan sekolah .

Prinsip Fleksibilitas 

Prinsip fleksibilitas dapat kita artikan sebagai suatu keluwesan artinya dana yang di berikan kepada pihak sekolah sebagai sarana untuk mengelolah dan memanfaatkan  juga untuk pemberdayaan sekolah dapat di upayakan scara oftimal mungkin sebagai unpaya untuk meningkatkan mutu sekolah.  Prinsip ini akan menimbulkan sekolah yang cepat tangkap dan sigap dalam menghadapi permasalahan yang ada di sekolah.

Prinsip partisipasi 

Prinsip partisipasi dapat diartikan sebagai penciptaan lingkungan yang terbuka . Dalam prinsip ini seluruh warga sekolah dan masyarakat di ikut sertakan dalam penyelenggaraan pendidiakan baik itu dalam pengambilan keputusan , pelaksanaan dan evaluasi dalam peningkatan mutu pendidiakn. 

Prinsip inisiatif 

Prinsip ini dapat di artikan sebagai prinsip yang dinamis . Oleh karena itu potensi sumberdaya manusia harus terus di gali dan di kembangkan agar dapat tercipta sumberdaya manusia yang inisiasif dalam pengelolaan suatu pendidiakn ( Hidayat dan Machali , 2012:56).

Tujuan dan Manfaat Manajemen Berbasi Sekolah 

Penerapan pengelolaan pendidikan dengan model management berbasis sekolah bertujuan untuk meningkatkan efisiensi ,mutu dan pemerataan pendidikan . Peningkatan mutu ini dapt di peroleh antara lain melalui partisipasi antara orang tua dan sekolah .

Peningkatan dapat di peroleh melalui masyarakat yang membuat pemerintah berfokus pada kelompok tertentu. Hal ini timbul karena kepemilikan yang tinggi terhadap sekolah ( Hidayat dan Machali , 2012:57).

   Penerapan manajemen berbasis sekolah sangat banyak memberikan suatu manfaat . Di karenakan manjemen berbasis sekolah telah memberikan kebebasan dan keluasan yang cukup besar ke pada sekolah dan harus bisa mempertanggung jawabkan . Dengan adanya otonomi yang memberikan keluasan maka pihak sekolah dapat meningkatkan kesejahteraan para guru agar dapat terfokus pada satu tugas. Selain itu penerapan management berbasis sekolah akan dapat meningkatkan koprofesional seorang guru dan kepala sekolah sebagai pemimpin sekolah , hal ini di karenakan konsep dari managemen berbasis sekolah menginginkan suatu kebebasan terhadap seorang guru dan kelpala sekolah dalam penyusunan kuikulum dan program akan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.  Management berbasis sekolah menekankan suatu keterlibatan antara berbagai pihak seperti pada pihak sekolah swasta , sehingga meningkatkan partisifasi staf , orang tua, dan masyarakat yang lebih luas dalam merumuskan keputusan pendidikan  .  Partisipasi tersebut dapat lebih meningkatkan keyakinan terhadap sekolah. Selanjutnya aspek nya dapapt mendukung dalam mencapai tujuan sekolah . Dengan adanya kontrol dari masyarakat dan pemerintah pengelolaan dalam pendidikan (Mulyasa , 2014:26).

Karakteristik Manajemen Berbasis Sekolah 

   Karakteristik manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah akan di ketahui bila sekolah dapat semaksimal mungkitn dapat mengoptimalkan kinerjanya . Beberapa kinerja nya berupanya yang di jadikan sebagai acuan adalah proses belajar, sumber belajar , keforpesionalan pendidik dan administrasi secara menyeluruh .

Saud , seperti dikutip Mulyasa ( 2014) , menjelaskan bahwa sebuah karakteristik dasar management berbasis sekolah adalah pemberian otonomi yang luas kepada sekolah, dan partisipasi masyarakat , orang tua , kepemimpinan sekolah yang frofesioanl serta adanya tim kerja yang frofesional . 

Faktor – Fakor Penting dalam Manajemen Berbasis sekolah 

Terdapat beberapa fator yang di perhatikan dalam peningkatan mutu manajemen mutu berbasis sekolah . Faktor itu berkaitan dengan sekolah , kebijakan sekolahh , pemerinatah , masyarakat dan propesioanal dalam profesi. 

Kewajiban Sekolahh

Manajemen berbasis sekolah yang di mana memberikan keluasan sehingga dapat menciptakan kepala sekolah guru yang profesional . Oleh karena itu kewajiban dan tuntutan atas tanggung jawab yan tinggi untuk menjamin pemerintah memenuhi harapan masyarakat dan sekolah .

Kebijkan dan Prioritas pemerintah 

Di sini pemerintah bertanggung jawab terhadap pendidikan nasional yaitu merumuskan kebijaakan – kebijakan yang berkaitan dengan efisiensi dan mutu dalam pendidikan .

Peran orang tua dan masyarakat 

   Peran masyarakat merupakan hal yang penting karena  dikarenakan dalam pegambilan keputusan . agar masyarakat dapat lebih memahami dan mengawasi dan juga dapat membantu sekolah dalam pengelolaan dalam kegiatan belajar mengajarkan.

Peranan profesional dan manjerial 

Dalam pelaksanaan manajemen berbasis sekolah yaitu dapat berpotensi meningkatkan keprofesionalan dan menejerial untuk dapat memenuhi persyaratan dalam melaksanakan menajemen berbasis sekolah guru dan tenaga administrasi harus memiliki dua sifat yitu porfesional dan manajerial. 

Minggu, 11 April 2021

Laporan bacaan kultur sekolah

 Asalammualaikum warahmatullahi wabarahkatu 

Nama saya , redo saputra dari kelas pai 4 e disini saya akan menceritakan laporan hasil membaca saya yaitu dengan topik kultur sekolah , pada hari sabtu tanggal ( 10-04-2021) untuk memenuhi tugas matakuliah magang satu . Kami sebagai mahasiswa di wajibkan untuk menulis laporan hasil membaca pada setiap kali pertemuan nya sesuai dengan, bahan bacaan yang telah di berikan oleh dosen ,terkait dengan bahan bacaan yang saya baca dan saya pahami tentang kultur sekolah , pertama – tama saya akan menjelaskan menurut pemahaman saya apa itu kultur . Istilah kata kultur berasal dari bahasa inggris yaitu culture  yang bisa di samakan dengan istilah budaya . Menurut zamroni (2000: 149), konsep kultur dalam dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja dan industri , yakni situasi yang akan memberikan landasan dan ara untuk berlangsung nya sautu proses produksi secara efektif dan efisien sebagai mana tidak ada satu definisi baku tentang budaya , demikian juga tidak ada definisi baku mengenai kultur sekolah . Kultur sekolah dapat di jelaskan sebagai sebuah nilai , persepsi , keyakinan dan cara berpikir , untuk bagai mana  memecahkan suatu masalah yang ada dalam suatu lembaga pendidikan yang terbentuk seiring perjalanan sekolah tersebut . Kultur sekolah mempunyai elemen – elemen sebagai berikut : 

Sebagai mana yang telah di jelaskaan di atas bahwa kultur sekolah merupakan suatu perangkat budaya yang terdiri dari norma – norma , ritual , keyakinan , nilai – nilai ,sikap dan kebiasan yang terbentuk dari sepanjang perjalanan sekolah tersebut . Bentuk kultur sekolah secara interisik merupakan suatu yang unik , karena pandangan dan sikap perilaku yang hidup dan berkembang di sekolah tersebut dapat mencerminkan , kepercayaan juga keyakinan yang dalam bagi para sisiwa yang dapat menjadi kan suatu sepirit yang dapat mendukung dan juga dapat membanggun kinerja di sekolah . Terdapat dua unsur dalam budaya sekolah yakni unsur kasat mata / visual dan unsur tidak kasat mata , unsur yang  kasat mata visual  yaitu unsur yang mencerminkan atau berkaitan dengan unsur yang tidak kasat mata, dan unsur yang tidak kasat mata yaitu sebuah filsafat pandanga  dasar suatu sekolah mengenai suatu cara pandang yang luas , mencakup pandangan hidup nilai – nilai yang di anggap penting oleh suatu sekolah dan yang harus di perjuangkan itu semua di cantum kan secara konseptual dalam rumusan visi ,misi  tujuan penting yang harus di capai oleh sekolah . Adapun unsur yang tersusun secara konseptual ataupun verbal yang meliputi visi , misi tujuan dan sasaran , kurikulum , komunikasi , narasi sekolah , setruktur organisasi , ritual , upacara , prosedur belajar , mengajar , pasilitas dan peralatan , pakaian seragam. 

Peran kultur terhadap kemajuan  sekolah 

Kinerja sekolah merupakan suatu pencapaian baik yang di capai oleh sekolah dari peroses atau perilaku sekolah yang dapat di lihat dari produktifitas efisiensi , inovasi , dan kualitas moral kerja di sekolah tersebut.  Kinerja sekolah meliputi juga kinerja siswanya yaitu berupa cara disiplin siswa motivasi , daya saing siswa dalam suatu sekolah . Suatu sekolah dapat dikatakan sebagai sekolah yang berkualitas tinggi apabilah prestasi sekolah jika peserta didiknya menunjukan pencapaian perstasi yang baik , contoh nya dalam bidang akademik seperti UAS dan UN dan pencapaian prestasi yang baik juga di bidang non akademik  seperti di bidang exstrakulikuler . Kultur sekolah dapat memperbaiki kinerja siswa apabila kultur lingkungan sekolahnya sehat , solid , kuat , positif , dan juga profesional . Artinya kultur di sekolah sangat menjadi komitmen yang luas di sekolah , artinya dengan kultur sekolah yang baik akan menciptakan suasan kekeluargaan kolaborasi dan juga semangat untuk bekerja keras dalam menciptakan belajar mengajar yang baik . Melihat dari berbagai penjelasan di atas dapat kita pahami bahwa konsep dari kultur merupakan sebagai upaya untuk memperbaiki kondisi organisasai dalam suatu sekolah yang lebih menekankan pada aspek penghayatan dari segi simbol , tradisi perjalanan sekolah yang dapat membentuk keyakinan dan kepercayaan pada diri dan kebanggaan akan sekolahnya. 

Pengembang Kultur untuk Meningkatkan kinerja siswa 

Siswa memengan peranan yang cukup besar dalam suatu peroses belajar mengajar di sekolah siswa juga mempunyai pengaruh penting dalam keberlangsung pendidikan . Guru bisa saja mengajar walaupun tidak memiliki bangku di kelas dan jika di sekolah tersebut tidak mempunyai ruang kelas yang baik guru masih bisa mengajar walaupun di sekolah tersebut serba kekurangan tetap masih bisa dilaksanakan nya proses belajar mengajar , tetapi jika di sekolah tersebut tidak ada siswa yang terlibat baik secara langsung atau pun tidak langsung maka guru tidak dapat melaksanakan proses belajar dan mengajar . Membangun pendidikan dan juga pengajaran tidak semata – mata membangun kinerja guru saja tetapai juga membangun kinerja siswa juga karena hakikat nya pada proses belajar siswa lah yang mempunyai kebutuhan dalam proses belajar. 

Pungsi kultur sekolah 

Dalam upaya mengembangkan mutu sekolah yang baik  maka sekolah di tuntut untuk terus melakukan perbaikan , untuk mengembangkan kualitas tersebut yaitu dengan cara meningkatkan kultur sekolah yang baik karena kultur sekolah memegang peranan yang sangat penting karena memiliki empat fungsi sebagai berikut : Pertama , sebagai alat untuk menciptakan jati diri siswa . kedua, kultur sekolah akan menciptakan  siswa yang berkomitmen tinggi . ketiga, kultur sekolah akan mendorong terjadinya kesetabilan dan dinamika sosial yang baik . Hal ini penting karena agar lingkungan sekolah tetap aman dan terjaga tidak ada konflik yang terjadi yang akan menggangu penigkatan mutu dalam suatu sekolah . keempat , kultur sekolah akan membangun keberartian lingkungan yang positif . 

Cara membangun kultur sekolah 

Menetap kan visi , misi , tujuan dan strategi sekolah suatu lembaga pendidikan di sekolah peru merumuskan visi, misi tujuan dan strategi apa yang harus di capai oleh suatu sekolah.  Visi adalah cita – cita yang ingin di capai oleh suatu sekolah yang berupa dorongan berupa inspirasi atau pun motipasi ke pada pihak yang berkepentingan untuk dapat mencapai nya. Misi sekolah adalah sesuatu yang wajib di lakukan untuk mewujudkan visi.  Hal yang harus kita lakukan untuk membangun dan memelihara fisik sekolah guna untuk menciptakan kultur sekolah yang baik , kultur sekolah mencerminkan moral dan budaya yang baik sebagi suatu lembaga . ada tiga komponen yang dapat mencerminkan hal tersebut yaitu  simbol , nilai , dan asumsi .

Penerapan nilai – nilai agama dalam membangun kultur sekolah yang baik 

Dalam suatu organisasi sekolah adalah lembaga budaya yang tidak hanya memberikan pemahaman dan pengajaran saja tetapi penting juga penting menanam kan nilai – nilai agama seperti membuat siswanya menjadi manuasia yang  , mandiri dan memiliki norma kesopanan dan berbudi pekerti luhur . Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan perlu membangun dan mengembangkan kultur sekolah yang baik , sehat , kereatif dan positif .

Dalam membangun kultur sekolah yang baik sangat perlu di dasari oleh pengakuan bahwa manusia adalah mahluk tuhan yang maha esa sehingga apa yang di lakukan selalu di niatkan untuk senantiasa beribada kepada tuhan . Keyakinan dan nilai – nilai agama akan memberikan dampak positif bagi siswanya karena apa yang di lakukan oleh warga sekolah nya akan selalu di pertanggung jawabkan selain dapat membagun kultur sekolah yang baik dengan menanam kan nilai – nilai agama dalam pembelajaran kita juaga mendapat kan suatu manfaat yang baik di sisi tuhan yang maha kuasa 

Impelementasi Kultur Sekolah Untuk Peningkatan Mutu 

Untuk menciptakan peningkatan mutu sekolah yang hendak di capai melalui kultur sekolah dapat di laksanakan dengan dua cara yaitu dengan cara proses pembiasaan dan sistem .

Untuk menciptakan pembiasaan tersebut biasanya dari pihak sekolah menciptakan tata tertib di sekolah , contoh nya seperti budidayakan kesopanan terhadap orang yang lebih tua  dan membangun kesadaran siswa agar jangan melanggar tatatertib yang telah di buat oleh sekolah , yang kedua ialah mengubah pembiasaan menjadi suatu sistem.

Peran Kepala Kekolah

Kepala sekolah harus bisa  memahami kultur sekolah , dan menyadari bahwa hal itu tidak lepas dari struktur dan pola kepemimpinannya. Perubahan kearah kultur  yang positif harus dimulai dari kepemimpinan kepala sekolah. Kepala sekolah harus mengembangkan  kepemimpinan berdasarkan dialog, saling perhatian dan pengertian satu dengan yang lain. Biarlah guru, staf administrasi bahkan siswa menyampaikan pandangannya tentang kultur sekolah yang ada dewasa ini, mana segi positif dan mana negatif, khususnya berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekolah, struktur organisasi, nilai-nilai dan norma-norma, kepuasan terhadap kelas, kepuasan terhadap pelayanan dan produktivitas sekolah, Pandangan ini sangat penting artinya bagi upaya untuk merubah kultur sekolah.

Kultur sekolah berkaitan erat dengan visi yang dimiliki oleh kepala sekolah tentang masa depan sekolahnya. Kepala sekolah yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan sekolah di masa depan akan lebih sukses dalam membangun kultur sekolah. Untuk membangun visi sekolah ini, perlu kolaborasi antara kepala sekolah, guru,staf administrasi danorang tua siswa. Kultur sekolah akan baik apabila:  kepala sekolah dapat berperan sebagai model, mampu membangun kerjasama tim,  belajar dari guru, staf, dan siswa, dan,  harus memahami kebiasaan yang baik untuk terus dikembangkan. Kepala sekolah dan guru harus mampu memahami lingkungan sekolah yang  tersebut. Karenar untuk melihat, memahami dan memecahkan berbagai masalah yang terjadi di sekolah. 

Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan seyogyanya memiliki kultur sekolah yang positif agar secara terus menerus dapat meningkatkan mutunya. Kultur sekolah yang positif akan menumbuh kan nilai-nilai yang positif dan kemanusiaan sehingga sekolah benar-benar dapat menjadi wadah  perubahan untuk menjadikan manusia  yang utuh, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berahlak mulia, seha jiwat ,berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi masyarakat yang bertanggung jawab.

      Kultur sekolah harus dibangun berlandaskan visi, misi dan tujuan sekolah dengan menerapkan manejemen partisipatif dan terbuka sehingga benar-benar bisa dipahami dan dihayati oleh seluruh siswa dan guru di  sekolah dan para pemegang kepentingan di sekolah sehingga dapat diimplemntasikan secara ikhlas dan konsisten untuk mencapai cita-cita yang telah ditetapkan dalam visi dan tujuan di sekolah. Jika di laksanakan dengan baik, kultur sekolah dapat meningkatkan kualitasnya secara terpadu untuk kepuasan , baik dari dalam maupun dari luar .


Sumber Referensi 

http://journal.iaingorontalo.ac.id › ...PDF KULTUR SEKOLAH DAN KINERJA PESERTA DIDIK MAN ...

Kultur sekolah

 Asalammualaikum warahmatullahi wabarahkatu 

Nama saya , redo saputra dari kelas pai 4 e disini saya akan menceritakan laporan hasil membaca saya yaitu dengan topik kultur sekolah , pada hari sabtu tanggal ( 10-04-2021) untuk memenuhi tugas matakuliah magang satu . Kami sebagai mahasiswa di wajibkan untuk menulis laporan hasil membaca pada setiap kali pertemuan nya sesuai dengan, bahan bacaan yang telah di berikan oleh dosen ,terkait dengan bahan bacaan yang saya baca dan saya pahami tentang kultur sekolah , pertama – tama saya akan menjelaskan menurut pemahaman saya apa itu kultur . Istilah kata kultur berasal dari bahasa inggris yaitu culture  yang bisa di samakan dengan istilah budaya . Menurut zamroni (2000: 149), konsep kultur dalam dunia pendidikan berasal dari kultur tempat kerja dan industri , yakni situasi yang akan memberikan landasan dan ara untuk berlangsung nya sautu proses produksi secara efektif dan efisien sebagai mana tidak ada satu definisi baku tentang budaya , demikian juga tidak ada definisi baku mengenai kultur sekolah . Kultur sekolah dapat di jelaskan sebagai sebuah nilai , persepsi , keyakinan dan cara berpikir , untuk bagai mana  memecahkan suatu masalah yang ada dalam suatu lembaga pendidikan yang terbentuk seiring perjalanan sekolah tersebut . Kultur sekolah mempunyai elemen – elemen sebagai berikut : 

Sebagai mana yang telah di jelaskaan di atas bahwa kultur sekolah merupakan suatu perangkat budaya yang terdiri dari norma – norma , ritual , keyakinan , nilai – nilai ,sikap dan kebiasan yang terbentuk dari sepanjang perjalanan sekolah tersebut . Bentuk kultur sekolah secara interisik merupakan suatu yang unik , karena pandangan dan sikap perilaku yang hidup dan berkembang di sekolah tersebut dapat mencerminkan , kepercayaan juga keyakinan yang dalam bagi para sisiwa yang dapat menjadi kan suatu sepirit yang dapat mendukung dan juga dapat membanggun kinerja di sekolah . Terdapat dua unsur dalam budaya sekolah yakni unsur kasat mata / visual dan unsur tidak kasat mata , unsur yang  kasat mata visual  yaitu unsur yang mencerminkan atau berkaitan dengan unsur yang tidak kasat mata, dan unsur yang tidak kasat mata yaitu sebuah filsafat pandanga  dasar suatu sekolah mengenai suatu cara pandang yang luas , mencakup pandangan hidup nilai – nilai yang di anggap penting oleh suatu sekolah dan yang harus di perjuangkan itu semua di cantum kan secara konseptual dalam rumusan visi ,misi  tujuan penting yang harus di capai oleh sekolah . Adapun unsur yang tersusun secara konseptual ataupun verbal yang meliputi visi , misi tujuan dan sasaran , kurikulum , komunikasi , narasi sekolah , setruktur organisasi , ritual , upacara , prosedur belajar , mengajar , pasilitas dan peralatan , pakaian seragam. 

Peran kultur terhadap kemajuan  sekolah 

Kinerja sekolah merupakan suatu pencapaian baik yang di capai oleh sekolah dari peroses atau perilaku sekolah yang dapat di lihat dari produktifitas efisiensi , inovasi , dan kualitas moral kerja di sekolah tersebut.  Kinerja sekolah meliputi juga kinerja siswanya yaitu berupa cara disiplin siswa motivasi , daya saing siswa dalam suatu sekolah . Suatu sekolah dapat dikatakan sebagai sekolah yang berkualitas tinggi apabilah prestasi sekolah jika peserta didiknya menunjukan pencapaian perstasi yang baik , contoh nya dalam bidang akademik seperti UAS dan UN dan pencapaian prestasi yang baik juga di bidang non akademik  seperti di bidang exstrakulikuler . Kultur sekolah dapat memperbaiki kinerja siswa apabila kultur lingkungan sekolahnya sehat , solid , kuat , positif , dan juga profesional . Artinya kultur di sekolah sangat menjadi komitmen yang luas di sekolah , artinya dengan kultur sekolah yang baik akan menciptakan suasan kekeluargaan kolaborasi dan juga semangat untuk bekerja keras dalam menciptakan belajar mengajar yang baik . Melihat dari berbagai penjelasan di atas dapat kita pahami bahwa konsep dari kultur merupakan sebagai upaya untuk memperbaiki kondisi organisasai dalam suatu sekolah yang lebih menekankan pada aspek penghayatan dari segi simbol , tradisi perjalanan sekolah yang dapat membentuk keyakinan dan kepercayaan pada diri dan kebanggaan akan sekolahnya. 

Pengembang Kultur untuk Meningkatkan kinerja siswa 

Siswa memengan peranan yang cukup besar dalam suatu peroses belajar mengajar di sekolah siswa juga mempunyai pengaruh penting dalam keberlangsung pendidikan . Guru bisa saja mengajar walaupun tidak memiliki bangku di kelas dan jika di sekolah tersebut tidak mempunyai ruang kelas yang baik guru masih bisa mengajar walaupun di sekolah tersebut serba kekurangan tetap masih bisa dilaksanakan nya proses belajar mengajar , tetapi jika di sekolah tersebut tidak ada siswa yang terlibat baik secara langsung atau pun tidak langsung maka guru tidak dapat melaksanakan proses belajar dan mengajar . Membangun pendidikan dan juga pengajaran tidak semata – mata membangun kinerja guru saja tetapai juga membangun kinerja siswa juga karena hakikat nya pada proses belajar siswa lah yang mempunyai kebutuhan dalam proses belajar. 

Pungsi kultur sekolah 

Dalam upaya mengembangkan mutu sekolah yang baik  maka sekolah di tuntut untuk terus melakukan perbaikan , untuk mengembangkan kualitas tersebut yaitu dengan cara meningkatkan kultur sekolah yang baik karena kultur sekolah memegang peranan yang sangat penting karena memiliki empat fungsi sebagai berikut : Pertama , sebagai alat untuk menciptakan jati diri siswa . kedua, kultur sekolah akan menciptakan  siswa yang berkomitmen tinggi . ketiga, kultur sekolah akan mendorong terjadinya kesetabilan dan dinamika sosial yang baik . Hal ini penting karena agar lingkungan sekolah tetap aman dan terjaga tidak ada konflik yang terjadi yang akan menggangu penigkatan mutu dalam suatu sekolah . keempat , kultur sekolah akan membangun keberartian lingkungan yang positif . 

Cara membangun kultur sekolah 

Menetap kan visi , misi , tujuan dan strategi sekolah suatu lembaga pendidikan di sekolah peru merumuskan visi, misi tujuan dan strategi apa yang harus di capai oleh suatu sekolah.  Visi adalah cita – cita yang ingin di capai oleh suatu sekolah yang berupa dorongan berupa inspirasi atau pun motipasi ke pada pihak yang berkepentingan untuk dapat mencapai nya. Misi sekolah adalah sesuatu yang wajib di lakukan untuk mewujudkan visi.  Hal yang harus kita lakukan untuk membangun dan memelihara fisik sekolah guna untuk menciptakan kultur sekolah yang baik , kultur sekolah mencerminkan moral dan budaya yang baik sebagi suatu lembaga . ada tiga komponen yang dapat mencerminkan hal tersebut yaitu  simbol , nilai , dan asumsi .

Penerapan nilai – nilai agama dalam membangun kultur sekolah yang baik 

Dalam suatu organisasi sekolah adalah lembaga budaya yang tidak hanya memberikan pemahaman dan pengajaran saja tetapi penting juga penting menanam kan nilai – nilai agama seperti membuat siswanya menjadi manuasia yang  , mandiri dan memiliki norma kesopanan dan berbudi pekerti luhur . Sekolah sebagai suatu lembaga pendidikan perlu membangun dan mengembangkan kultur sekolah yang baik , sehat , kereatif dan positif .

Dalam membangun kultur sekolah yang baik sangat perlu di dasari oleh pengakuan bahwa manusia adalah mahluk tuhan yang maha esa sehingga apa yang di lakukan selalu di niatkan untuk senantiasa beribada kepada tuhan . Keyakinan dan nilai – nilai agama akan memberikan dampak positif bagi siswanya karena apa yang di lakukan oleh warga sekolah nya akan selalu di pertanggung jawabkan selain dapat membagun kultur sekolah yang baik dengan menanam kan nilai – nilai agama dalam pembelajaran kita juaga mendapat kan suatu manfaat yang baik di sisi tuhan yang maha kuasa 

Impelementasi Kultur Sekolah Untuk Peningkatan Mutu 

Untuk menciptakan peningkatan mutu sekolah yang hendak di capai melalui kultur sekolah dapat di laksanakan dengan dua cara yaitu dengan cara proses pembiasaan dan sistem .

Untuk menciptakan pembiasaan tersebut biasanya dari pihak sekolah menciptakan tata tertib di sekolah , contoh nya seperti budidayakan kesopanan terhadap orang yang lebih tua  dan membangun kesadaran siswa agar jangan melanggar tatatertib yang telah di buat oleh sekolah , yang kedua ialah mengubah pembiasaan menjadi suatu sistem.

Peran Kepala Kekolah

Kepala sekolah harus bisa  memahami kultur sekolah , dan menyadari bahwa hal itu tidak lepas dari struktur dan pola kepemimpinannya. Perubahan kearah kultur  yang positif harus dimulai dari kepemimpinan kepala sekolah. Kepala sekolah harus mengembangkan  kepemimpinan berdasarkan dialog, saling perhatian dan pengertian satu dengan yang lain. Biarlah guru, staf administrasi bahkan siswa menyampaikan pandangannya tentang kultur sekolah yang ada dewasa ini, mana segi positif dan mana negatif, khususnya berkaitan dengan kepemimpinan kepala sekolah, struktur organisasi, nilai-nilai dan norma-norma, kepuasan terhadap kelas, kepuasan terhadap pelayanan dan produktivitas sekolah, Pandangan ini sangat penting artinya bagi upaya untuk merubah kultur sekolah.

Kultur sekolah berkaitan erat dengan visi yang dimiliki oleh kepala sekolah tentang masa depan sekolahnya. Kepala sekolah yang memiliki visi untuk menghadapi tantangan sekolah di masa depan akan lebih sukses dalam membangun kultur sekolah. Untuk membangun visi sekolah ini, perlu kolaborasi antara kepala sekolah, guru,staf administrasi danorang tua siswa. Kultur sekolah akan baik apabila:  kepala sekolah dapat berperan sebagai model, mampu membangun kerjasama tim,  belajar dari guru, staf, dan siswa, dan,  harus memahami kebiasaan yang baik untuk terus dikembangkan. Kepala sekolah dan guru harus mampu memahami lingkungan sekolah yang  tersebut. Karenar untuk melihat, memahami dan memecahkan berbagai masalah yang terjadi di sekolah. 

Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan seyogyanya memiliki kultur sekolah yang positif agar secara terus menerus dapat meningkatkan mutunya. Kultur sekolah yang positif akan menumbuh kan nilai-nilai yang positif dan kemanusiaan sehingga sekolah benar-benar dapat menjadi wadah  perubahan untuk menjadikan manusia  yang utuh, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berahlak mulia, seha jiwat ,berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi masyarakat yang bertanggung jawab.

      Kultur sekolah harus dibangun berlandaskan visi, misi dan tujuan sekolah dengan menerapkan manejemen partisipatif dan terbuka sehingga benar-benar bisa dipahami dan dihayati oleh seluruh siswa dan guru di  sekolah dan para pemegang kepentingan di sekolah sehingga dapat diimplemntasikan secara ikhlas dan konsisten untuk mencapai cita-cita yang telah ditetapkan dalam visi dan tujuan di sekolah. Jika di laksanakan dengan baik, kultur sekolah dapat meningkatkan kualitasnya secara terpadu untuk kepuasan , baik dari dalam maupun dari luar .


Kamis, 28 November 2019

Cerpen


Nama : Redo Saputra
Kelas : Pai e
Nim : 11901242




Kisah Cinta Sipemalu

         Pada suatu hari di sebua desa, ada dua sahabat yang memiliki kepribadian yang berbeda ada yang pamalu dan ada juga yang suka menghibur dan memebuat orang tertawa.Kedua sahabat ini ada yang bernama surya dan ada pula yang bernama dewa pada kedua toko ini surya orang nya pemalau dan pendiam sedangkan si dewa orang nya  banyak bicara dan suka melawak suka memebuat orang tertawa, pada suatu pagi dalam kelas terlihat surya lagi mengerjakan tugas lalu datang seorang perempuan menghampiri surya perempuan itu bernama santi kamu lagi mengerjakan apa sur tanya si santi dengan lembut kepada surya surya kaget sambil menunduk karena malu surya menjawab dengan tergugup- gugup menahan malu karena santi ada di sampingnya surya pun duduk agak menjauh dari santi , Surya di juluki sipendiam dan suka menyendiri di kelas  selang tidak beberapa lama guru  masuk ke kelas dan menjelaskan pelajaran di hari itu. 
waktu istirahat pun tiba surya berjalan di depan kelas dari jauh surya melihat santi sedang berbicara berdua  dengan dewa , surya langsung pergi karena tidak ingin melihat santi dengan dewa duduk berdua karena surya sebenarnya suka dengan santi tapi perasaan itu hanya bisa di pendam di dalam hati karena surya malu untuk mengungkapkan perasaan nya terhadap santi setelah kejadian itu surya berusaha untuk menjauhi santi , beberapa hari kemudian santi pergi menemui surya dan berusaha untuk berbicara berdua dengan surya tapi surya malah pergi menjauh tidak menghiraukan  nya di dalam hati santi bertanya - tanya mengapa sikap surya tiba- tiba berubah sebenarnya santi juga suka dengan surya tetapi santi menungu surya untuk mengungkapkan perasaanya tetapi kejadian tak terduga pun tiba dewa sahabat karib surya malah mengugkap kan terlebih dulu persaanya kepada santi. Dan surya melihat kejadian hati surya terasa hancur namun apa daya surya menyadari bahwa dirinya malu untuk bertemu santi apa lagi mau menyatakan perasaan nya surya langsung pergi setelah melihat kejadian itu santi menjelaskan perasaannya kepada dewa bahwa santi mengangap nya sebagai teman saja karena perasaanya hanya untuk surya dan dewa menerima jawaban dari santi walaupun itu berat dewa llangsung pergi meningalkan santi sendiri di belakang kelas . Dewa langsung pergi menemui surya dan menjelaskan tentang kejadian tadi setelah surya mengetahu hal tersebut dia langsung pergi menemui santi setelah mereka berdua bertemu surya berusaha melawan rasa malunya dan surya menjelaskan perasaanya kepada santi bahwa dia sudah lama memendam perasaanya tetapi surya tidak mau menyakiti hati sahabat  karib nya dewa dan surya memilih berteman saja dengan santi dewa melihat kejadian itu dewa langsung menghampiri surya dan memeluknya akhirnya mereka bertiga menjadi sahabat sejati dan tidak ada perasaan apapun diantara mereka bertiga.